Cerita rakyat

Nama : Hapsah Zani Adawiyah

Nim : 24016025

Prodi : Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia


Malin Kundang

Di sebuah desa kecil di Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat, hiduplah seorang janda bernama Mande Rubayah bersama anak laki-lakinya, Malin Kundang. Mereka hidup dalam kemiskinan, tetapi Mande Rubayah sangat menyayangi Malin Kundang dan bekerja keras untuk membesarkannya. Seiring berjalannya waktu, Malin Kundang tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan tampan. Ia memutuskan untuk pergi merantau mencari kehidupan yang lebih baik dan berjanji akan kembali untuk membahagiakan ibunya. Dengan berat hati, Mande Rubayah melepas kepergian anaknya.

Malin Kundang berlayar dengan sebuah kapal dagang. Selama bertahun-tahun, ia bekerja keras dan akhirnya menjadi kaya raya. Ia menikah dengan seorang gadis cantik dan hidup makmur. Suatu hari, Malin Kundang memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dengan kapal mewahnya. Saat kapal Malin Kundang berlabuh di Pantai Air Manis, Mande Rubayah sangat bahagia melihat kedatangan anaknya. Namun, ketika Mande Rubayah mendekati kapal dan menyapa Malin Kundang, ia merasa malu dengan penampilan ibunya yang miskin dan tua. Malin Kundang menyangkal bahwa Mande Rubayah adalah ibunya dan bahkan mengusirnya dengan kasar.

Mande Rubayah sangat sedih dan marah. Ia memohon kepada Tuhan untuk menghukum anaknya yang durhaka. Tiba-tiba, langit menjadi gelap dan badai besar menghantam kapal Malin Kundang. Kapal tersebut hancur berkeping-keping dan Malin Kundang berubah menjadi batu sebagai hukuman atas kesombongannya. Hingga kini, batu yang menyerupai tubuh manusia dapat ditemukan di Pantai Air Manis dan dipercaya sebagai Malin Kundang yang telah dikutuk. Kisah ini menjadi pelajaran bagi semua orang untuk selalu menghormati dan menyayangi orang tua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan cerita rakyat "Malin Kundang"

Cerita saya "pergi merantau"